News

Biarkan Aku Menjadi Bucin ‘Tuk Kedua Kali

Hahahahaha. Ga banget emang judulnya. Tapi sambil diiringi lagu-lagu di serial Hospital Playlist hari ini, plus abis nonton Words Bubble Up Like Soda Pop, biarkan perempuan yang sudah menginjak 25 tahun ini berbucin ria. Anjay. Nulis “25 tahun”nya udah berasa kayak udah gede banget yak. Hahahaha. Umur 25 tahun emang udah ga seharusnya main-main soal cinta sih. Tapi kali ini, karena kenal sama orang yang aku rasa aku ga pernah nemu sebelumnya setelah yang pertama, dan kayaknya ini udah terlalu mengganggu pikiran, sebaiknya disalurkan lewat tulisan aja biar lega.

Kurang lebih sebulan yang lalu, lebih sih, aku kenal sama sesosok laki-laki yang aku gatau dia orangnya gimana tapi entah aku merasa nyaman bisa ngobrol. Akhirnya setelah 2 minggu ngobrol via chat, kita ketemu dan foto-foto guys, hunting gitu ceritanya. Trus, gatau kenapa, tapi rasanya nyaman sih ngobrolnya, asek, trus baru kali itu juga aku bisa nyaman nyanyi-nyanyi ga jelas sama lawan jenis selain klo ke masku. Dia orangnya juga suka nyanyi-nyanyi wkwk.

Continue reading
Standard
curhat

Eros dan Agape

Uncondiotional love yang terlalu dini.
Menerima terlalu apa adanya
Seperti tak ada usaha
Seperti tak mencintai, tak punya rasa tertarik

Rupanya tak begitu seharusnya cinta romantis laki-laki dan perempuan
Rupanya ketertarikan, keterikatan dan rasa mendesir di dada tetap harus ada
Rasa kagum pada seseorang, tak hanya sekedar ingin memberi
Rasa menginginkan dan diinginkan. tak hanya mempercayai

Aku kira cinta orang dewasa memang sedatar itu.
Aku rasa romatisme hubungan dua orang tidak wajib, yang wajib adalah menjaga kesetiaan dan saling memberi
Tidak. Tidak sesimple itu.
Lebih kompleks dari yang ada

Pada akhirnya, berakhirlah pada yang nyaman, yang srek.
Cinta eros dan agape berjalan keduanya.

Standard
curhat, News

Become a Banker : Building Mental Toughness Before Welcoming New Life

“Life is not linear. It’s organic. Life is a constant process of improvisation between interests and personality on the one hand and circumstances and opportunities on the other.” – Ken Robinson

Sebelum terbentur realita dan meruntuhkan tembok-tembok ideal mau kerja seperti apa, aku orang yang cukup pemilih mau jadi apa, termasuk pemilih soal tempat dimana nanti aku bernaung untuk bekerja. Aku waktu itu punya concern di bidang musik, pendidikan, komunikasi massa, psikologi khususnya kesehatan mental, filsafat dan media sosial (banyak ya…..). Iya, banyak. Tapi sebetulnya saling berkaitan dan ini ga jauh dari latar belakangku yang adalah anak ilmu komunikasi + latar belakang keluarga juga yang kebanyakan emang guru dan eyang juga yang penggiat musik gereja. Dengan peminatan yang banyak, kesannya jadi tidak fokus dan akhirnya galau sendiri mau kemana. Di satu sisi sangat pemilih, di satu sisi juga ga memenuhi kualifikasi di bidang yang aku mau, di sisi lain juga harus mikir tentang kondisi riil kehidupan.

Aku kuliah di peminatan media di Universitas Airlangga dan aku mengambil skripsi yang punya irisan dengan ilmu psikologi komunikasi. Sembari menyelesaikan skripsi, aku bahkan sempat berpikir untuk ambil S2 di bidang neuroscientist karena terpengaruh buku Psikoanalisisnya Sigmund Freud – yang adalah buku rujukan utama skripsi ku – dan sangat tertarik dengan itu. Pernah gara-gara baca buku itu, aku jadi pengen tau caranya gimana supaya bisa membuat teroris itu “sadar” dan ingin mendalami tentang alam bawah sadar manusia wkwkwkw (ngayalnyaa). Gara-gara ada salah satu bab yang emang membahas tentang terorisme. Tapi aku harus paham posisiku saat itu dimana. Rasanya tidak mungkin. Berkali-kali aku katakan ke diri sendiri, aku bukan orang kaya, aku tidak punya network yang cukup luas untuk bisa mengakses bidang keilmuan itu dengan cuma-cuma, aku tidak cukup punya determinasi untuk itu, aku sepertinya tidak sepengen itu untuk cari beasiswa demi sekolah itu, untuk belajar IELTS/TOEFL, untuk nanti bertahan hidup sendiri (karena kayaknya neuroscience belom ada di Indonesia ya? Waktu itu sih nemunya di LN semua). Keinginan iti juga hanya keinginan anget-anget tai ayam (pengen doang, ga serius). Setelah lulus kuliah, yang aku butuhkan dan pikirkan saat itu adalah bagaimana caranya aku bisa punya uang dan bisa hidup bersama dengan pacarku saat itu.

Continue reading
Standard
random

Tomas, Raya and The Last Dragon, First Love: Trust Issue

“Aku udah kasih kepercayaan ke kamu 2x dan sekarang kamu begitu lagi. Gimana aku bisa percaya sama kamu lagi?”

!!! ((spoiler alert)) !!!

Aku ikut misa online di Paroki Minomartani, kebetulan pas lagi Ekaristi Kaum Muda. Aku ga ngantuk pas misa. Sungguh pencapaian, karena biasanya suka ngantuk, sampe dimarahin dan dijewerin sama Ibuk wkwk. Aku ga pernah ngantuk kalo pas tugas aja biasanya wkwkwk. Sepanjang aku dengerin kotbah, aku ketawa. Bahkan sejak awal misa udah ketawa gara-gara romonya ngebut banget jalannya, mendahului misdinar ama prodiakon-prodiakonnya wkwkwkw.

Bacaan yang dibawakan misa pagi hari ini adalah tentang Tomas yang tidak percaya bahwa itu adalah Yesus yang bangkit. Sebuah bacaan yang selalu diulang setiap tahun dan selalu mengingatkan untuk selalu percaya tanpa harus melihat. Tapi yang khusus hari ini adalah di kotbahnya dibilangin bahwa iman itu personal. Bukan hal baru buatku sebenernya. Tapi diingetin lagi. Apa kita pernah melihat Tuhan? Apa kamu yakin kalo Yesus itu mukanya kayak yang digambar-gambar itu? Semua kembali ke percaya atau engga, mengimani atau engga. Dan adanya kepercayaan atau engga itu semua kembali ke diri sendiri dan sebenarnya ga perlu digembar-gemborkan. Ia ada untuk dialami dan iman itu muncul dari pengalaman, dari peristiwa-peristiwa yang pernah dialami.

Continue reading
Standard
curhat

Unpredictable Route : Become a Banker?

“Some lives are lived without risk or ambition and some are lived as an adventure” – Ken Robinson

‘Saya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi’
‘Saya memiliki keinginan untuk mempelajari hal-hal baru’
‘Saya selalu berusaha mengambil nilai-nilai dari suatu peristiwa’
‘Saya mengatasi konflik dengan kompromi’
‘Saya kurang disiplin dan kurang gigih dalam mencapai sesuatu. Hal ini menyebabkan saya tidak banyak menorehkan prestasi semasa kuliah. Saya ingin menebusnya melalui dunia kerja’

Kira-kira itulah yang saya tulis ketika harus mengisi kuisioner untuk dikumpulkan ke HRD sebelum interview pekerjaan. Itu adalah interview pekerjaan terakhir saya setelah kurang lebih 6 bulan menjadi jobseeker. Melanglang buana sambil memikirkan, “Kenapa aku ga lolos ya? Aku ga pinter ya…? Kenapa aku dulu pas kuliah ga banyak-banyakin ikut lomba biar punya portofolio ya? Kenapa dulu aku ga magang di perusahaan A aja sih ya biar langsung tau kayak gimana kerjanya? Mungkin kesempatan diterimanya lebih besar? Kenapa aku ga lolos administrasi di sini ya? Aku cocoknya kerja apa sih?” dan rentetan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala karena puluhan lamaran sudah dilayangkan tapi tidak juga ada yang berhasil.

Continue reading
Standard