curhat

Eros dan Agape

Uncondiotional love yang terlalu dini.
Menerima terlalu apa adanya
Seperti tak ada usaha
Seperti tak mencintai, tak punya rasa tertarik

Rupanya tak begitu seharusnya cinta romantis laki-laki dan perempuan
Rupanya ketertarikan, keterikatan dan rasa mendesir di dada tetap harus ada
Rasa kagum pada seseorang, tak hanya sekedar ingin memberi
Rasa menginginkan dan diinginkan. tak hanya mempercayai

Aku kira cinta orang dewasa memang sedatar itu.
Aku rasa romatisme hubungan dua orang tidak wajib, yang wajib adalah menjaga kesetiaan dan saling memberi
Tidak. Tidak sesimple itu.
Lebih kompleks dari yang ada

Pada akhirnya, berakhirlah pada yang nyaman, yang srek.
Cinta eros dan agape berjalan keduanya.

Standard
curhat, News

Become a Banker : Building Mental Toughness Before Welcoming New Life

“Life is not linear. It’s organic. Life is a constant process of improvisation between interests and personality on the one hand and circumstances and opportunities on the other.” – Ken Robinson

Sebelum terbentur realita dan meruntuhkan tembok-tembok ideal mau kerja seperti apa, aku orang yang cukup pemilih mau jadi apa, termasuk pemilih soal tempat dimana nanti aku bernaung untuk bekerja. Aku waktu itu punya concern di bidang musik, pendidikan, komunikasi massa, psikologi khususnya kesehatan mental, filsafat dan media sosial (banyak ya…..). Iya, banyak. Tapi sebetulnya saling berkaitan dan ini ga jauh dari latar belakangku yang adalah anak ilmu komunikasi + latar belakang keluarga juga yang kebanyakan emang guru dan eyang juga yang penggiat musik gereja. Dengan peminatan yang banyak, kesannya jadi tidak fokus dan akhirnya galau sendiri mau kemana. Di satu sisi sangat pemilih, di satu sisi juga ga memenuhi kualifikasi di bidang yang aku mau, di sisi lain juga harus mikir tentang kondisi riil kehidupan.

Aku kuliah di peminatan media di Universitas Airlangga dan aku mengambil skripsi yang punya irisan dengan ilmu psikologi komunikasi. Sembari menyelesaikan skripsi, aku bahkan sempat berpikir untuk ambil S2 di bidang neuroscientist karena terpengaruh buku Psikoanalisisnya Sigmund Freud – yang adalah buku rujukan utama skripsi ku – dan sangat tertarik dengan itu. Pernah gara-gara baca buku itu, aku jadi pengen tau caranya gimana supaya bisa membuat teroris itu “sadar” dan ingin mendalami tentang alam bawah sadar manusia wkwkwkw (ngayalnyaa). Gara-gara ada salah satu bab yang emang membahas tentang terorisme. Tapi aku harus paham posisiku saat itu dimana. Rasanya tidak mungkin. Berkali-kali aku katakan ke diri sendiri, aku bukan orang kaya, aku tidak punya network yang cukup luas untuk bisa mengakses bidang keilmuan itu dengan cuma-cuma, aku tidak cukup punya determinasi untuk itu, aku sepertinya tidak sepengen itu untuk cari beasiswa demi sekolah itu, untuk belajar IELTS/TOEFL, untuk nanti bertahan hidup sendiri (karena kayaknya neuroscience belom ada di Indonesia ya? Waktu itu sih nemunya di LN semua). Keinginan iti juga hanya keinginan anget-anget tai ayam (pengen doang, ga serius). Setelah lulus kuliah, yang aku butuhkan dan pikirkan saat itu adalah bagaimana caranya aku bisa punya uang dan bisa hidup bersama dengan pacarku saat itu.

Salah Jurusan

Waktu kuliah, di masa semester 3-4 aku sempat merasa aku salah jurusan (kayaknya banyak mahasiswa yang mengalami ini). Disitu rasanya males mau ngapa-ngapain. Nilai-nilai banyak yang turun. Meskipun masih di angka yang masih tergolong baik, tapi ya standar aja, ga bagus-bagus amat. Semangat belajar turun, merasa ga mampu. Tapi satu hal yang harus aku ingat, aku kuliah bukan biaya dari orang tua, bener-bener biaya dari pemerintah, dan ga seharusnya aku menyia-nyiakan itu. Ga seharusnya juga aku berpikir untuk diriku sendiri maunya gimana. Ga mau menyesal juga. Akhirnya mungkin semester 5-7 lumayan rajin. Semester 8, tinggal skripsi doang, sempat down lagi karena skripsi revisi terus ga kelar-kelar. Tapi puji Tuhan akhirnya selesai juga dan IP juga ga malu-maluin amat. Akhirnya aku meninggalkan masa kuliah dengan ga menyesal-menyesal amat.

Perjalanan untuk akhirnya semangat lagi sebetulnya ga singkat. Aku ikut retret ini itu, ikut pengembangan diri ini itu, seminar ini itu yang lumayan bikin bingung aku tuh mau apa, aku tuh bagusnya dimana, jalanku udah betul apa belum. Aku kena marah dan dijutekin, mengurung diri, menjadi bagian dari proses “dipecut” sebelum akhirnya melaju ke arah yang lebih baik.

Selanjutnya, setelah lulus kuliah, step berikutnya adalah mencari kerja. Ternyata IP cukup ga cukup. Waktu cari kerja, aku merasa portofolioku kurang. Mulai merasa menyesal kenapa dulu jadi anak kok malesan amat, kenapa dulu ga bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian? Yang ada malah bersantai-santai dahulu, bersusah-dadakan kemudian. Tapi ya untung masih dikasih berkat untuk bisa dapet kerjaan, di perusahaan yang mapan juga.

Aku sempat bingung, seperti yang aku udah cerita di post sebelumnya, karena kok kerjaannya ga sesuai. Udah rasanya, “fix banget, bisa ga sih keluar sekarang juga? Tapi kok ada pinalti. Aku ga sanggup bayarnya.” Wkwkwkw. Sekarang aku bisa ketawa, tapi waktu itu aku rasanya sudah pasrah, nangis-nangis, ga sanggup rasanya, ga kuat. Tapi ya ujung-ujungnya tetap lanjut dan diangkat jadi karyawan tetap. Waktu sah jadi karyawan tetap, aku harus ikatan dinas 2 tahun dan saat itu langsung beepikir, “yak… terjebak 2 tahun. Selamat berproses ya wkwkwkwk tahan-tahan…” sambil sedih, mo kerja kok gini amat ya, oh tidak aku akan kerja kayak gini terus selama 2 tahun. Langsung sedih. Lalu aku jadi sempat iri dengan teman-teman yang bisa kerja sesuai bidangnya. Di masa-masa sedihnya, ada cobaan pandemic Corona. Pusing rasanya karena harus menangani pekerjaan-pekerjaan yang semakin berat dengan deadline yang ketat. Berbagai drama pekerjaan dimulai. Kewalahan dengan pekerjaan, sempat kehilangan dokumen, dimarahin nasabah, dimarahin sini situ. Tapi yaaa sekarang sudah satu tahun berjalan, ada kelegaan akhirnya terlewat juga. Pertanyaan selanjutnya, bagaiamana setelah 1 tahun pekerjaan, apakah betah, sanggup dan akan dilanjutkan?

Not Take It for Granted

Selama hampir 2 tahun ada di perusahaan ini, ada yang aku tidak sadar untuk aku syukuri yaitu teman-teman angkatanku yang super duper suportif dan baik. Kalau teman di kantor lain bilang, biasanya temen kantor itu suka nusuk di belakang, tapi temen-temen angkatanku engga. Pun ketika sudah penempatan di cabang, aku merasa walaupun awalnya agak nyebelin dan serem, aku takut dan jadi harus cek ombak dulu, tapi pada akhirnya aku sudah mulai merasa bisa cair dan merasa bahwa mereka orang-orang yanh baik dan suportif juga asal aku tahu caranya menempatkan diri, mau membantu juga, dan ga terlalu ambil pusing, tidak terlalu hitungan.

Bisa dibilang, kewajibanku tinggal satu tahun lagi. Aku gamau meninggalkan kantor ini dengan menyesal nantinya. Pertanyaan apakah akan dilanjutkan sepertinya terjawab. Aku merasa aku masih punya mimpi dan tujuan lain, dengan perhitungan-perhitungan dan pertimbangannya dan setelah barupunya sedikit pengalaman 1 tahun di pekerjaan yang sekarang.

Yang Di Atas sudah kasih aku kesempatan untuk bisa bekerja di sini pasti punya maksud dan tujuan-Nya sendiri. Meskipun rasanya super duper capek dan aku merasa sebetulnya aku merasa ga mampu di sini, tapi seharusnya aku di sini bisa bekerja bukan semata-mata untuk uang, tapi untuk belajar dan punya pengalaman. Walaupun pengalamannya bukan pengalaman di bidang yang mau aku geluti, tapi setidaknya di sini aku belajar untuk bisa mengasah mental, untuk lebih punya determinasi menyelesaikan pekerjaan, untuk selalu lebih memikirkan solusi, untuk menjadi orang yang lebih tangguh, tahan banting, bisa bekerja di bawah tekanan. Walaupun lelah, tapi mau gamau harus dijalani, karena masih ikatan dinas (lhoh?) wkwkwkw kok malah ke situ arahnya. Bukan, bukan. Harus dijalani, ya karena mungkin memang ini jalan yang harus ditempuh dahulu untuk bisa jadi orang yang lebih maju dan lebih baik. Jalan untuk menuju ke sana emang ga pernah gampang. Selain itu, siapa tahu aku jadi bisa pakai ilmu yang ada di sini nantinya untuk bekalku di pekerjaan selanjutnya. Tidak ada yang tahu. Rencana-Nya untukku apa aku pun juga belum tau.

Jalannya memang sulit dan terjal, tapi sebisa mungkin berusaha untuk not take it for granted. Semua harus diusahakan. Walaupun sekarang belum di bidang yang sesuai, tapi sambil berjalan dan tetap punya visi dan usaha yang konsisten, pasti bisa.

Grit and Vision

Hal yang aku yakini adalah aku ga bisa kontrol hal-hal yang ada diluar kewenanganku. Dengan berpedoman pada hal tersebut, aku merasa aku harus berdiri di kaki sendiri dan ga boleh menggantungkan nasibku pada orang lain, termasuk karirku. Aku merasa aku tidak terlalu bagus dan tidak terlalu mampu untuk bekerja di bidang saat ini. Aku merasa aku lebih sering menyusahkan daripada membuat untung. Jika terus seperti ini, aku merasa, karirku tidak akan jauh. Pun aku juga seperti tidak punya gairah untuk penasaran dan jatuh terlalu dalam hingga bisa menjadi ahli di bidang ini. Semata-mata aku bekerja untuk bekerja. Bukan untuk bisa memperdalam pekerjaan ini hingga menjadi profesi dan bukan menjadi bentuk aktualisasi diri. Oleh karena itu, yang aku lakukan untuk pekerjaan utamaku sekarang adalah mengusahakan yang terbaik dan sebisanya dan bertanggung jawab sesuai porsinya. Sampai detik ini ketika aku mulai serius untuk terjun ke bidang lain, walaupun aku belum ada di titik bisa menjadi ahli, masih kurang disiplin dalam berusaha, tapi aku merasa bidang lain ini terus memanggil untuk dikerjakan dan aku ingin bisa menjadi ahli di bidang ini. Tujuannya sendiri pun sebetulnya masih bercabang, tapi entah mengapa, entah ini dorongan apa, tapi aku masih mau ke sana.

Yah, apapun itu, hidup ga selalu linier, ga selalu lurus sejalan. Jalannya memang kadang berliku, termasuk terjun ke dunia perbankan dulu seperti sekarang. Tinggal dilihat saja nanti mana jalan yang seiring berusaha, jalan tersebut satu per satu terbuka. Lebih baik dipersiapkan dan diusahakan sebelum menyambut kehidupan yang baru.

— FIN —

Standard
random

Tomas, Raya and The Last Dragon, First Love: Trust Issue

“Aku udah kasih kepercayaan ke kamu 2x dan sekarang kamu begitu lagi. Gimana aku bisa percaya sama kamu lagi?”

!!! ((spoiler alert)) !!!

Aku ikut misa online di Paroki Minomartani, kebetulan pas lagi Ekaristi Kaum Muda. Aku ga ngantuk pas misa. Sungguh pencapaian, karena biasanya suka ngantuk, sampe dimarahin dan dijewerin sama Ibuk wkwk. Aku ga pernah ngantuk kalo pas tugas aja biasanya wkwkwk. Sepanjang aku dengerin kotbah, aku ketawa. Bahkan sejak awal misa udah ketawa gara-gara romonya ngebut banget jalannya, mendahului misdinar ama prodiakon-prodiakonnya wkwkwkw.

Bacaan yang dibawakan misa pagi hari ini adalah tentang Tomas yang tidak percaya bahwa itu adalah Yesus yang bangkit. Sebuah bacaan yang selalu diulang setiap tahun dan selalu mengingatkan untuk selalu percaya tanpa harus melihat. Tapi yang khusus hari ini adalah di kotbahnya dibilangin bahwa iman itu personal. Bukan hal baru buatku sebenernya. Tapi diingetin lagi. Apa kita pernah melihat Tuhan? Apa kamu yakin kalo Yesus itu mukanya kayak yang digambar-gambar itu? Semua kembali ke percaya atau engga, mengimani atau engga. Dan adanya kepercayaan atau engga itu semua kembali ke diri sendiri dan sebenarnya ga perlu digembar-gemborkan. Ia ada untuk dialami dan iman itu muncul dari pengalaman, dari peristiwa-peristiwa yang pernah dialami.

Continue reading
Standard
curhat

Unpredictable Route : Become a Banker?

“Some lives are lived without risk or ambition and some are lived as an adventure” – Ken Robinson

‘Saya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi’
‘Saya memiliki keinginan untuk mempelajari hal-hal baru’
‘Saya selalu berusaha mengambil nilai-nilai dari suatu peristiwa’
‘Saya mengatasi konflik dengan kompromi’
‘Saya kurang disiplin dan kurang gigih dalam mencapai sesuatu. Hal ini menyebabkan saya tidak banyak menorehkan prestasi semasa kuliah. Saya ingin menebusnya melalui dunia kerja’

Kira-kira itulah yang saya tulis ketika harus mengisi kuisioner untuk dikumpulkan ke HRD sebelum interview pekerjaan. Itu adalah interview pekerjaan terakhir saya setelah kurang lebih 6 bulan menjadi jobseeker. Melanglang buana sambil memikirkan, “Kenapa aku ga lolos ya? Aku ga pinter ya…? Kenapa aku dulu pas kuliah ga banyak-banyakin ikut lomba biar punya portofolio ya? Kenapa dulu aku ga magang di perusahaan A aja sih ya biar langsung tau kayak gimana kerjanya? Mungkin kesempatan diterimanya lebih besar? Kenapa aku ga lolos administrasi di sini ya? Aku cocoknya kerja apa sih?” dan rentetan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala karena puluhan lamaran sudah dilayangkan tapi tidak juga ada yang berhasil.

Continue reading
Standard
curhat

Hilda’s Love Story 3

“Love isn’t firewoks or kissing in the rain
Isn’t not driving through sunset while holdin’ hands
But it’s waking up to realize that someone is there
To take care of your heart
So do you need a reason to fall in love?”
– Alika, Reasons to Fall in Love

Setelah kurang lebih hampir 2 tahun sejak putusnya dengan hubungan pertama, aku diberi kesempatan untuk dekat dengan sosok yang sudah aku kenal sejak 2016 silam. Continue reading

Standard