random

Tuhan dan Hati Nurani

Pagi ini ikut misa jam 7 pagi di gereja Pringwulung, Jogja. Tentunya online. Di kotbah misa ini, Romonya bilang, sekenal-kenalnya kita dengan orang lain, tetap orang lain itulah yang paling mengenal dirinya sendiri. Dan yang paling mengenal diri orang lain selain dirinya sendiri adalah yang menciptakan dia, yakni Tuhan. Emang siapa lagi? Ya kan? Maka dari itu, kalau kita menghakimi orang lain terlebih dahulu, ngejelek-jelekin atau kita udah berburuk sangka terlebih dahulu tentang orang lain, nyumpah-nyumpahin orang itu bakal masuk neraka, padahal di mata Sang Pencipta orang itu ga begitu buruknya, rasanya kayak ga pantes aja. Kita ga terlalu kenal, tapi kita udah berani memberi “status”.

Dari kotbah pagi ini aku jadi mikir lagi, kalau yang paling kenal dengan diri kita sendiri adalah diri kita sendiri, dan selain diri kita sendiri yang paling kenal adalah tuhan, lalu emang tuhan ada dimana? Mungkin selama ini mikir tuhan itu letaknya di atas. Karena kalau menunjuk tuhan, pasti menunjukkan jari ke atas. Itu kacamataku. Tapi kalau dipikir-pikir tuhan itu sepertinya ya ada di diri kita sendiri. Bentuknya apa? Bentuknya mungkin hati nurani. Dia yang membuat kita merasa, “ini kayaknya bener, ini kayaknya salah, ini ga pas deh, oh ini pas kok.” Ia seperti kompas hidup. Ia yang membuat kita bergerak ke sana dan kemari, memutuskan ini dan itu.

Tapi bukannya itu semua bisa dilakukan dengan nalar? Dengan pikiran? Ya, terkadang antara pikiran dan hati sering bercampur. Aku pun sampai sekarang masih belum bisa mengenali mana ini “argumen” yang dasarnya adalah pikiran aku sendiri yang mana pikiran itu adalah buah dari aku baca, aku liat orang lain, aku denger perkataan orang lain, semua tontonan, semua yang aku tangkap oleh indra tubuh.

Rasanya-rasanya masih perlu buat lebih fokus lagi, lebih bisa peka terhadap hati nurani, maunya apa, maunya gimana. Mana sih yang emang bener-bener perasaan ga enak, mana yang emang hal yang tepat untuk dilakukan bukan semata-mata karena mempertimbangkan A B C D dari pengaruh keindraan tubuh melainkan karena tindakan itu memang selaras dengan pencipta kita. Tindakan dan keputusan itu berasal dari hati nurani kita.

Semoga setiap keputusan, setiap tindakan kita, selalu selaras dan sesuai dengan hati nurani kita. Amin.

Standard
random

Marketing

Dalam marketing diperlukan kecerdikan
Karena yang dipertaruhkan adalah kepercayaan
Dan janji akan keberhasilan

Terkadang harus mencari akal
Memcari jalan memutar
Mencari celah
Tapi tidak melanggar
Untuk akhirnya mencapai tujuan

Ada kepentingan
Ada kompromi dan negosiasi
Mencari jalan tengah
Mencari win-win solution
Mengatur banyak strategi
Tanpa membuat satu pun rugi

Marketing adalah ujung tombak
Yang membuat roda company bergerak
Company butuh bahan bakar
Dan bahan bakar itu adalah profit

Profit, achievement, target, kuartal, client, data
Semua diperhitungkan
Sekecil apapun nilainya

Marketing,
Entah hard sell atau soft sell
Pekerjaannya menguras tenaga
Pikiran, fisik, dan mental

Marketing,
Kau sungguh membuatku overthinking

Standard
poetry

Untuk segala mimpi dan angan di sana
Bersabarlah, sang penaklukmu masih berusaha
Jangan buru-buru untuk pergi meninggalkan
Jangan bosan untuk mendengar usaha yang berulang-ulang dilakukan

Selangkah demi selangkah perlu dilalui menggapaimu
Penaklukmu perlu menjadi sabar dan tidak putus asa
Perlu ketenangan dan percaya suatu saat sampai di sana

Untuk sang penakluk yang mudah putus ada dan mudah menyerah
Mencapai mimpi itu bak marathon panjang
Ia menuntut diri untuk diingat
Ia menuntut diri agar penuh daya juang

Ora et Labora

Standard