curhat

People Can Heal

Tulisan ini merupakan deskripsi atas rasa yang saya dapatkan setelah menjalani minggu yang penuh gejolak emosi.

Seminggu kemarin adalah hari-hari yang berat. Aku mengalami masalah dengan orang rumah, dengan pacar, dengan kuliah. Benar-benar berat rasanya. Berbagai pikiran muncul, dan kebanyakan yang ada justru pikiran-pikiran negatif. Pikiran negatif itu selalu aku turuti, aku tidak dapat melawannya. Bahkan permenungan-permenungan yang aku lakukan pun membuahkan nilai yang berasal dari pikiran negatif. Aku awalnya tidak sadar bahwa itu adalah pikiran negatif. Benar-benar tidak sadar. Sampai akhirnya hari ini aku -seperti biasa- menjalankan rutinitas di hari minggu sebagai orang katolik yakni ke gereja. Sebuah keharusan itu membuatku mau tidak mau bergerak mandi, berpakaian, dan menyiapkan segalanya untuk ke gereja. Tapi ada yang sedikit berbeda. Gerakanku, yang mungkin itu semata-mata karena kewajiban ke gereja,  aku lakukan karena jauh di dasar hati aku memiliki harapan untuk lepas dari segala kesusahan, kebosanan, dan kelelahan yang aku rasakan selama seminggu ini.

Tidak seperti biasanya, aku mengambil buku puji syukur dan membawanya. Aku tidak mengambil buku panduan gereja yang biasa aku bawa setiap ke gereja. Kali ini justru kebalikan dari biasanya. Aku membawa buku puji syukur, dan aku tidak membawa buku panduan gereja. Aku berangkat sendirian dan mengendarai sepeda motor. Dan ketika sampai di gereja, aku bertemu dengan bapak penjaga parkir yang sudah kenal diriku. Aku tersenyum kepada beliau. Beliau juga tersenyum dan menyapaku. Aku berjalan dari tempat parkir ke gereja. Setelah sampai di pintu gereja, ternyata sepanjang mata memandang tempat duduk di sana telah penuh. Untungnya di bagian belakang agak tengah masih terdapat tempat kosong. Aku duduk di sana. Di sebelah kiri ku ada seorang laki-laki masih muda, duduk di ujung bangku. Demikian di kananku duduk seorang perempuan yang masih muda juga. Ketika aku ingin duduk dan melewati laki-laki muda yang duduk di ujung kursi, aku sama sekali tidak memberikan senyum tulus kepadanya dan bahkan juga kepada perempuan yang duduk di kananku. Aku tersenyum hanya sekedar senyum untuk menyapa dan sebagai tanda “permisi”. Benar-benar tidak tulus. Aku masih merasa terbebani oleh masalah. Aku kemudian melepaskan tas selempangku, dan mengeluarkan buku puji syukur di meja yang tersedia. Aku berdoa dalam posisi duduk (biasanya aku berlutut). Ketika aku datang, misa tinggal beberapa menit akan dimulai sehingga aku selesai berdoa bersamaan dengan bunyi kerincing tanda misa dimulai. Aku berdiri, dan aku merasakan hal yang berbeda ketika aku mendongakkan kepala melihat ke depan dan melihat orang-orang di sekitarku bernyanyi menyanyikan lagu pembuka misa.
Continue reading

Standard
curhat

Refleksi

Tulisan ini adalah sebuah refleksi atas pengalaman menjalin hubungan dengan oranglain, thanks to Sigit karena aku jadi bisa mikir beginian. Terimakasih untuk pengalamannya.

 

Aku gatau ada berapa tipe manusia di dunia. Tapi yang aku tau manusia itu makhluk sosial yang butuh orang lain. Aku, juga butuh orang lain. Karena aku butuh orang lain maka aku berusaha sebisa mungkin melakukan banyak hal untuk orang lain. Ya balas budi lah. Kan ga mungkin cuma minta tanpa ngasih.

Aku sering mikir random, dan kadang pikiran random itu harus diutarakan. Dulu aku tulis pikiran-pikiran randomku itu di blog, sebelumnya aku tulis di buku harian. Tetapi kadang juga ga aku tulis, aku cuma ngomong sendiri pas lagi di jalan naik motor. Makanya aku suka melamun, aku sering ga fokus, pikiran suka kemana-mana. Kadang aku ngerasa kok aku kayak orang gila ya, ngomong sendiri, ketawa sendiri. Dan kadang ketika aku ngomong soal sesuatu yang random itu  aku merasa kosong karena ternyata ga ada respon dari orang lain. Aku nulis di buku harian juga berasa kayak ngomong sendiri, kosong yang bener-bener kosong. Buku cuma pasif, dia ga aktif ngasih respon. Satu-satunya yang aktif, ya sesama manusia. Kalo buku bisa ngomong, mungkin aku ga butuh orang lain.

Sejak kenal Facebook, aku suka bikin status-status random.
Continue reading

Standard