curhat

Tenggelam dalam Pengakuan, Terperangkap oleh Ketidakbahagiaan

Seorang Pastor dalam kotbahnya di satu misa mengatakan bahwa semakin kita dewasa kita semakin sulit untuk menemukan kebahagiaan. Waktu kecil kita mudah merasa bahagia seperti misalnya ketika diberi permen, kita mudah bahagia ketika kita bisa ranking satu, kita mudah bahagia ketika mendapat mainan, kita mudah bahagia ketika kita bisa memberi makan seekor gajah atau jerapah. Namun seiring bertambahnya usia, kebahagiaan semakin abstrak, bahkan kita semakin tidak dapat merasakan apa itu kebahagiaan yang sesungguhnya dan bagaimana kita bisa memperoleh kebahagiaan. Apakah dengan kita punya uang banyak kita akan bahagia? Apakah dengan kita punya pasangan hidup kita akan bahagia? Apakah dengan kita bisa bekerja sesuai hobi kita akan bahagia? Apakah dengan kita tinggal di luar negeri kita akan bahagia?
Continue reading

Standard
poetry

Berlabuh

Sekarang saatnya untuk kita menetapkan
Cukup sudah terombang-ambing di lautan
Perahu ini bukan milik orang lain melainkan kita
Kita yang menahkodainya
Kita yang menentukan arahnya

Daratan memang belum kelihatan sekarang
Namun bukan berarti itu tidak ada
Akan ada waktunya untuk kita menemukannya
Pasti akan ada saatnya kita dapat melihatnya

Perjalanan masih panjang untuk sampai ke sana
Layar kuat dan navigasi tepat yang menjadi andalan
Pastikan layar itu tidak berlubang
Dan pastikan bahwa kita dapat mengikuti kemana angin akan membawa

Namun perlu diingat tidak semua angin membawa pada arah yang tepat
Lihatlah kompas dan telitilah
Kenali apakah angin itu membawa makin dekat atau menjauh pada daratan
Kenali dan sadarlah
Sekali lagi kenali dan sadarlah

Sekarang saatnya untuk kita menetapkan
Cukup sudah terombang ambing di lautan
Kalaupun ada angin yang datang mengacaukan
Tetap kendalikan layar dan tenanglah
Perahu ini bukan milik orang lain melainkan kita
Kita yang menahkodainya
Kita yang menentukan arahnya

Surabaya, 8 Januari 2018

Standard