News

On Feeling Depressed

Tulisan ini adalah hasil terjemahan dari video di bawah ini. Tujuan saya cuma satu: supaya orang-orang Indonesia yang merasa depresi yang ngga bisa bahasa inggris bisa selalu semangat, mau terus belajar, dan segera menemukan solusi dalam hidupnya. Ini saya bantu dikit-dikit translate ya. Mohon koreksi kalau ada yang kurang tepat 🙂

Kita tidak membicarakan soal yang ekstrim, ketidakberdayaan yang sangat, atau wilayah keputusasaan dimana pertolongan medis secara eksternal adalah hal yang vital.

Yang menjadi tujuan pembicaraan ini adalah dimana kita merasa terjebak dalam suasana hati “agak putus asa” (quite desperation – Thoreau’s phrase)

Quite desperation digambarkan seperti situasi dimana kita berada di daerah pedalaman abu-abu yang luas,dimana di bawah permukaan luar daya tahannya kita merasa kehabisan tenaga, hampir ingin menangis, di luar rasa simpati dalam memahami orang lain, mudah tersinggung, merasa terintimidasi/gelisah pada pekerjaan yang sangat sederhana.

Mungkin ada beberapa hal yang menjadi pemicu sifat melankolis kita tersebut:

  • Penolakan secara intim
  • Penghinaan disekitar pekerjaan/lingkungan kita
  • Tumbuhnya kesadaran bahwa peluang terjadinya rencana-rencana ambisius yang telah direncanakan sebelumnya hanya sedikit (hanya wacana)

Sayangnya, kesedihan terasa sangat tabu. Masyarakat cenderung dengan liciknya bersikeras dalam kegembiraan. Kita akhirnya tidak hanya berjuang melawan kesedihan kita, tapi juga menerima hinaan dan dipermalukan oleh orang lain bahwa kita berada dalam kesulitan dan kesedihan seperti itu.

Namun kenyataannya tidak ada hal lain yang lebih natural atau biasa (terjadi sehari-hari) selain rasa kesedihan.

Kita banyak merasa murung atau sedih sesederhana hanya karena kita hidup kemudian kita akan sering merasa sangat disalahpahami, dikritisi secara tidak adil, diabaikan dan ditolak. Kita akan terserang oleh kebodohan kita sendiri dan ditakutkan oleh kejelekan dalam diri dan perasaan pengecut dalam diri kita sendiri. Kita akan membuat keputusan-keputusan lemah yang mengejutkan. Kita akan membiarkan orang lain jatuh dan kita akan menyaksikan seseorang yang kita sayangi menderita dan mati sebelum diri kita sendiri menyerahkan hidup kita.

Sebab dari perasaan rendah dan demorilasasi (membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri atau harapan) dialami kurang lebih oleh setiap orang. Ini adalah suatu universalitas – sebuah normalitas – dari penderitaan yang membuat pandangan dari anak-anak kecil yang bahagia sangat pedih (memilukan). Kita tahu (seperti yang anak-anak belum ketahui) seberapa banyak anak-anak akan menderita. Kita tidak tahu persis detailnya. Tetapi kita tahu bahwa dalam cara tertentu atau pada suatu kengerian lain yang khas, perasaan rendah dan demoralisasi, pada waktunya, akan menimpa mereka.

Setiap hari, hampir tanpa menyadari itu, kita harus menyingkirkan alasan-alasan kuat yang berdatangan pada kita supaya kita tidak putus asa. Kita mengandalkan “sebuah mesin internal” atau “otot-otot harapan” untuk memompa keluar pemikiran yang mampu menghibur diri kita. Hingga sampai suatu hari pekerjaan itu terasa sangat banyak, “otot harapan” kemudian tidak dapat menahannya lagi. Pada saat seperti inilah (dimana otot harapan tidak kuat menahan pekerjaan) kita perlu menyimpan beberapa gagasan dalam pikiran kita:

  • Sebagai awalan, kesedihan itu tidaklah kegagalan satu orang; Ini adalah realitas dasar untuk seluruh speses kita.
  • Kita sangatlah terlalu sensitif seperti konstruksi yang lemah, yang secara konstan terbuka pada bahaya; pada bagian yang membutakan, kita suka mengharap tanpa memperhitungkan kenyataan dan mengharap dengan kebutuhan akan cinta/kasih dan simpati yang tak terpuaskan.
  • Kesengsaraan-kesengsaraan kita adalah sebuah tanda bahwa kita ini manusia. Tidak pernah kesengsaraan itu hanya kutukan yang menempel begitu saja pada keberadaan diri kita.
  • Selain itu, siapapun yang merasa sukses, sikap optimis (bouyant) dan ketenangan (composed) akan membuat hidup terus berjalan. Ketika waktunya tiba, sikap optimis dan ketenangan akan mampu melindungi diri kita dari tempat yang sama dari kesedihan yang sudah berhasil kita asingkan (hadapi) sebelumnya.

Kita terlalu dekat dengan diri kita. Kita terlalu fokus pada diri sendiri, pada kegagalan-kegagalan pribadi kita sampai lupa bahwa kekurangan kita adalah sesuatu yang umum: orang lain yang kita lihat lebih mapan, indah, dan kaya.

Seandainya kita bisa melihat ke dalam hati mereka, kita tidak akan merasa sendiri. Kita, faktanya, terkadang sulit untuk berada di sekeliling orang lain. Kita mudah untuk mengkarikatur diri kita sebagai pemarah dan kesakitan. Tetapi, benar bahwa kita lebih merasa sedih daripada merasa berarti, merasa lebih khawatir daripada merasa buruk.

Akan sulit untuk membuat kesedihan kita terlihat menarik; untuk menampilkan diri kita dalam cara yang memenangkan kasih sayang yang sangat kita butuhkan. Namun, kita justru semakin mengerasi diri kita sendiri daripada semakin “berteman” dengan diri kita sendiri. Kita seharusnya, paling tidak, memberi diri kita tingkat pengampunan yang sederajat dimana kita tidak akan merasa ragu memerintah diri kita untuk mengalami hal-hal/pengetahuan yang baru.

Pada akhirnya, bagaimanapun menggiurkannya hal tersebut, kita tidak bisa hanya mengabaikan hidup kita. Ada banyak orang yang mengandalkan diri kita (bahkan jika kehadiran mereka tidak terasa nyata saat ini).

Di atas semuanya, kita tidak tahu masa depan. Itu adalah sisi lain dari ketergantungan kita pada kesempatan. Sesuatu bisa menjadi sedikit lebih baik karena sulit untuk diramalkan. Sama halnya seperti kenikmatan yang bisa memudar dan bisa terlihat tidak berarti dalam retrospeksi (ketika mengingat masa lalu,  maka rasa sakit dapat terlewati atau melunak (menjadi lebih ringan). Hal-hal yang kita pikir tidak mungkin dapat kita selesaikan, secara bertahap dapat teratasi; kita menyesuaikan postur mental kita, kita “merunduk” untuk mengakomodasi realitas baru.

Menjadi menyedihkan tidak menyingkirkan kita dari komunitas manusia. Kesedihan adalah tanda yang pasti bahwa kita sangat normal. Kehidupan tetap berkembang,dengan caranya yang kelam, kurang lebih sesuai dengan rencananya.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s