curhat

Finding Inner Peace

Kira-kira sejak minggu lalu aku merasa tidak semangat karena jauh secara fisik dari orang-orang terdekat. Dan dalam keadaan jauh itu, aku mengharapkan mereka, orang-orang terdekat, adalah satu-satunya orang yang mampu memberi aku nilai-nilai positif dalam diri sehingga aku bisa lebih semangat. Tetapi yang aku dapatkan dari satu diantara mereka adalah nilai negatif. Bukannya dorongan untuk semangat, tetapi malah kata-kata yang menurut pandanganku justru menjatuhkan.

Sering aku membaca post-post di media sosial yang membahas tentang ini. Orang-orang merasa dirinya jatuh karena perkataan dari orang lain yang negatif. Aku sering membaca tentang orang-orang yang depresi dan bahkan bunuh diri karena perkataan tajam dan menyakitkan dari orang lain.

Buatku, perkataan negatif dari orang lain yang ditujukan ke aku terkadang tidak menjadi masalah. Tetapi yang masalah buatku adalah justru ketika orang-orang terdekat -yang aku harapkan menjadi satu-satunya ‘oase’ dalam keringnya masyarakat yang menyakitkan di luar sana- ikut menyakiti. Rasanya aku seperti merasa haus selamanya di padang pasir yang kering. Aku tidak merasakan kesegaran. Aku merasa kering, hilang, tidak bergairah. Orang-orang terdekat yang aku anggap mampu menjadi air dikala aku terbakar ternyata sama-sama menjadi minyak tanah yang semakin membuat api dalam diriku itu berkobar.

Aku suka sekali musik. Lalu kemarin aku tidak sengaja membuka salah satu akun instagram pianis dari Jepang. Dalam satu postnya mengatakan “Music is always within my heart. I find my inner peace in Music.”. Ketika aku membaca ada hal yang menarik yang aku belum pernah denganr sebelumnya yaitu inner peace. Aku saat itu tidak tau apa itu inner peace, bagaimana cara kerjanya, bagaimana itu bisa ada, dan bagaimana itu bisa melekat di dalam diri pianis itu sehingga dia bisa nulis “I find my inner peace in Music”. Maka mulailah pencarianku di YouTube dan Google tentang apa itu inner peace.

Setelah beberapa waktu mencari, menurutku menemukan inner peace atau dalam interpretasi ku yakni ‘kedamaian diri’ adalah penting. Terutama terkait dengan ceritaku di atas. Bagaiamana orang akan memaki aku, orang lain akan menjatuhkan, bahkan mereka adalah orang terdekatku. Setelah membaca, apa yang ada dipikiranku adalah bagaimanapun juga mereka, orang-orang terdekat, adalah manusia yang pasti melakukan kesalahan, sehingga mungkin makian dan cacian itu tidak secara sengaja dimaksudkan. Mungkin maksud mereka sebenarnya baik, mereka memiliki hati yang baik. Mereka memang benar-benar ingin membuatku lebih baik tetapi mereka belum tahu cara menyemangati atau mengkomunikasikan maksud mereka dengan kata-kata yang cocok untukku, yang tidak menyakiti hatiku. Oleh karena itu, menemukan inner peace adalah penting.

Aku tidak bisa mengharapkan hal-hal di luar diriku adalah hal yang damai, tenang, dan selalu positif. Aku tidak bisa bergantung pada mereka bahkan terhadap orang-orang terdekat sekalipun. Aku tidak bisa mengharapkan mereka memberikan air untuk aku segar kembali di dalam perjalananku di padang gurun. Kesegaran itu haruslah aku yang ciptakan sendiri. Kedamaian itu haruslah aku yang bentuk sendiri. Aku tidak bisa terus tergantung dan meminta orang lain untuk menyemangatiku. Mereka galak? Iya. Mereka mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan? Iya. Bahkan, sekali lagi, mereka adalah orang terdekat. Mungkin ketika melakukan itu mereka tidak sepenuhnya sadar kalau menyakiti sehingga ketika aku dengan penuh harap menginginkan mereka meminta maaf atas kesalahan mereka dalam berkata-kata, “maaf” itu tidak pernah akan keluar.

Maka dari itu ini saatnya untuk aku menemukan hal yang membuat aku merasa damai dengan sendirinya dan menjadi tabah sekalipun hal-hal menyakitkan di luar itu selalu datang. Sejauh ini mungkin komposisi dan John Rutter dan gerak jemari tanganku di tuts piano mampu membuat aku menjadi lebih tabah. Mungkin keesokan hari bisa jadi udara segar pagi, suara kicauan burung dan gerak langkah anjing di komplek mampu memberi kedamaian.

Kesimpulanku pagi ini: Jika manusia tidak mampu memberikan ketenangan dan kebahagiaan, masih ada yang lain yang mampu seperti suara instrumen, tumbuhan dan segala binatang yang dengan caranya mampu memberikan kedaiaman.

Manusia yang menyakitkan diriku bukan sepenuhnya manusia yang jahat dan sengaja menyakiti. Mereka hanya belum menemukan cara yang pas untuk aku. Maka tetaplah aku harus bersama mereka dan mengasihi mereka bagaiamanpun mereka supaya akhirnya kecocokan itu bertemu.

Sebagai penutup, ini adalah lagu pagi ini yang membuat aku merasa kembali lagi segar setelah mengalami “kering” dalam beberapa hari ini.

P.S Tulisan ini adalah pengalaman subjektif, sehingga kebenarannya pun juga subjektif berdasarkan referensi dan lingkup pengalaman penulis. Penulis terbuka terhadap pengalaman dari subjek lain dengan menceritakan lewat komentar di bawah untuk memperkaya pengetahuan. Terimakasih 🙂

Standard