curhat

Terikat oleh Uang

Setiap aku membaca kisah tentang orang-orang yang melakukan kegiatan sosial seperti menjenguk orang sakit setiap hari, membangun sekolah untuk anak-anak terlantar, membimbing ibu-ibu yang ingin mendirikan UMKM, dan kegiatan sosial lainnya yang tidak menghasilkan upah, aku cuma bisa menghela napas. Aku sering menemui dan merasa terpanggil untuk membantu. Tetapi aku selalu akhirnya berpikir, “dah gausah, nanti malah jadi susah sendiri. Memenuhi kebutuhan hidup sendiri aja masih pas-pas-an.”

Aku suka merasa kalau aku dulu juga diposisi orang yang dibantu itu. Dibantu oleh pakdhe budhe, dibeliin ini itu, dikasih ini itu. Awalnya aku senang dibantu tapi lama-lama jenuh juga. Aku juga mau merasakan rasanya punya hidup enak seperti orang-orang itu tapi dengan usaha sendiri. Bisa makan daging tiap hari dari usaha sendiri, rumah ber-AC dari keringat sendiri, pergi kemana-mana gak repot kehujanan dan ga perlu nunggu ojek online karena ada mobil sendiri hasil tabungan sendiri.

Aku pengen banget bisa panjat sosial karena aku ga mau selalu dikasihani. Aku ga suka jadi orang yang selalu nerima uang, rasanya kayak aku ga punya apa-apa. Rasanya seperti orang yang selalu rendah karena orang-orang yang punya uang itu selalu ngasih dan uang mereka ga pernah habis dan seolah-olah semua masalahku bisa diselesaikan dengan ngasih aku uang.

Money is power. Kalimat itu membuat aku sedih karena aku pun jadi merasa diperbudak oleh dia. Bukannya sombong ga mau terima pemberian uang, tapi aku cuma ga mau dikasihani kayak gitu. Sekarang yang ada dipikiranku cuma cari kerja yang menghasilkan duit banyak biar aku ga terus-terusan dikasih, tapi bisa ngasih.

Tapi di satu sisi aku merasa dengan mikir kayak gitu berarti aku udah terikat dengan uang dan nantinya aku cuma akan jadi orang yang memperbudak orang lain dengan uang juga, dan jadi orang yang ga bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang.

Ga bersyukur karena walaupun bukan lahir dari keluarga yang punya uang banyak, aku masih punya badan lengkap tanpa cacat, ga bersyukur karena masih bisa menempuh pendidikan di sekolah yang layak, ga bersyukur karena bisa lulus sekolah sampai sarjana, ga bersyukur karena masih punya ortu yang gigih & melakukan apapun untuk anaknya, banyak ga bersyukur yang akhirnya menyebabkan aku menjadi orang yang tidak peduli, hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mau berbagi karena merasa hidupnya tidak cukup punya banyak uang.

Sekarang kalau aku mau pasrah sama hidupku, dalam artian ikutin kata hati yang penting selalu bantu orang, trus akhirnya aku pun ga ngurus aku sendiri lalu tidak tahu apakah akan bisa merasakan hidup enak atau engga, aku ga rela. Tapi di satu sisi aku juga ga mau tanpa sadar ternyata sudah diikat oleh uang, terlalu fokus mencapai karir, menambah uang sampai lupa sama sekitar.

Katanya rejeki itu sudah ada yang atur. Dan ada wejangan juga kalau jangan sampai seseorang berubah karena uang. Jadi, aku cuma berharap semoga aku ga gampang ngeluh dan berhenti kalau seandainya di masa depan aku ga mendapatkan apa yang aku inginkan. Semoga hidupku tetap seimbang dan semoga dengan iman yang kuat maka kita akan selamat. Amin.

Semarang,

14 November 2018

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s