curhat, News

Menulis untuk Hobi atau Profesi?

Aku terus memaksa diri… Apa jangan-jangan aku tuh sebenernya ga suka nulis ya? Nulis cuma untuk pelampiasan, atau untuk berkhayal, untuk kalau pas pengen aja. Tapi kalau buat kerja mungkin ga suka?

Bisa jadi ya.

Baru pertengahan Januari ini aku ikut relawan content writer. Bener-bener aku ngerjain artikelnya kalo baru mepet deadline. Itupun rasanya ogah banget. Aras-arasen. Lalu ada revisi-revisi juga yang bikin aku pusing sendiri karena harus ngikutin maunya editor. Tulisanku itu lebar. Harusnya dipersempit. Lebih spesifik. Apalagi kalau harus mengecek satu-satu soal tulisan yang sesuai ejaan. Kalau aku baca buku, aku emang paling tidak suka melihat tulisan yang tidak rapi, banyak typo. Tapi ketika aku sendiri yang jadi penulis, capek juga ya…..

Hmmmm, gimana ya…. Apa emang aku ga bisa dan ga suka nulis? Tapi ya kadang aku pengen bisa seperti penulis-penulis terkenal itu. Tapi kalau disuruh belajar juga ga minat-minat amat (?)

Standard
curhat

Yang Akhir-akhir Ini Sering Dibicarakan: Kesehatan Mental

Entah ini menurut saya saja atau memang akhir-akhir ini banyak yang membahas tentang kesehatan mental?

Semangat untuk menjadi orang yang positif akhir-akhir ini sering disebarkan. Pun dengan sikap untuk tidak membanding-bandingkan diri dengan orang lain, sikap iri. Hal ini disebabkan oleh ramainya social media yang katanya hanya membuat orang tidak produktif, menjadi mudah sedih, depresi. Apakah kesehatan mental itu semacam virus atau bagaimana ya? Kok tahu-tahu jadi banyak yang perhatian dan membicarakan.

Waktu saya SMP saya punya teman namanya Stella. Teman saya itu suka ga nyambung kalau diajak bicara, dan suka aneh sendiri. Padahal menurut saya orangnya baik. Ada beberapa teman sekelas yang memperlakukan dia seperti orang gila, freak. Saya tidak tahu apa emang Stella itu betul punya gangguan kesehatan mental. Tapi yang jelas saya tidak suka dengan cara beberapa teman saya yang memperlakukan Stella itu seperti mainan. Karena dia itu beda cara pikirnya lalu dijauhi. Pun saya juga punya teman kuliah yang memang beda cara pikirnya, tidak seperti orang kebanyakan. Tapi kenapa ya, orang yang berbeda itu suka dilihat aneh oleh orang. Ya tidak dipungkiri aku pun juga begitu. Tapi mengapa cara pandangnya itu seperti melihat barang, atau merendahkan? Bukan seperti melihat sesuatu yang baru sebagai sebuah ‘harapan’. Hmmm malah jadi melantur ya. Intinya, syukur alhamdulilah sekarang orang-orang makin peduli dengan orang-orang yang menurut beberapa orang itu adalah orang aneh. Semoga semakin hari orang semakin peduli.

Orang-orang aneh ini hidup dalam cara pikir yang berbeda. Ada yang suka mencuri (klepto), ada yang tidak tahan untuk mencuci tangan atau melihat sesuatu yang kotor (OCD), dan sebagainya. Di catatan ini saya memuat link-link yang sebenarnya untuk catatan saya sendiri tentang kesehatan mental. Saya optimis bahwa mental seseorang itu bisa dipulihkan sehingga minimal tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena, jujur, punya pikiran yang berbeda dengan orang lain itu kadang lelah juga.

Berikut link-link-nya.

https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/mengganggu-kesehatan-mental/

https://lifestyle.kompas.com/read/2017/07/05/202609220/bahaya.pelihara.sikap.pesimis.

https://lifestyle.kompas.com/read/2017/02/22/100300023/6.tanda.seseorang.memiliki.gangguan.obsesif.kompulsif – untuk yang merasa tidak tahan kotor

https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/7-cara-mengatasi-gejala-ocd/

https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/02/160217_majalahlain_kesehatan_mental

Dari saya baca-baca artikel-artikel di atas, saya jadi sadar bahwa penerimaan dan kedisiplinan adalah 2 hal yang harus diterapkan kalau kita mau selalu dalam kondisi sehat. Penerimaan maksudnya menyadari kalau kita punya kekurangan itu. Bukan dibantah. Bukan dihindari. Kemudian kedisiplinan ini dalam hal menyembuhkan. Misal seorang OCD akan merasa dia perlu untuk cuci tangan setiap pegang benda-benda asing yang menurut dia kotor. Padahal sebenarnya tidak juga. Kedisiplinan yang dimaksud di sini adalah melatih diri, bertahan untuk tidak mencucui tangan kalau benar-benar kotor. Karena kegiatan ini bisa menghambat. Seorang OCD bisa sampai berpuluh-puluh kali selalu cuci tangan. Hal ini karena ia selalu memikirkan bahwa bakteri-bakteri cepa menular dan selalu ada.

Semoga sehat selalu.

 

Bekasi, 29 Januari 2019

 

Standard
Review Film

Like Father Like Son: Kumpulan Kesalahan yang Diampuni

“Kamu adalah dengan siapa kamu dibesarkan, bukan dari rahim siapa.”

Apa Ayah pandai bermain layang-layang..PNG

Dengan menuliskan pernyataan di atas, saya siap dipukuli oleh ibu-ibu yang baru saja melahirkan anak setelah tulisan ini dipublikasikan (mbok pikir nglairke ki gampang po??? – kamu pikir melahirkan itu gampang apa?). Tapi dari film Jepang berjudul そして父になる, Soshite Chichi ni Naru, itulah salah satu hal yang saya tangkap setelah menonton film keluaran tahun 2013 ini. Hirokazu Koreeda sebagai sutradara dan penulis skenario, yang memang selalu mengangkat tema keluarga di film-filmnya, kali ini mengangkat isu tentang anak. Apakah itu tentang anak adopsi, anak tertukar, anak yang hilang baru bertemu kedua orangtuanya, Anda saya persilakan untuk menebak-nebak. Hehehe.

Yang jelas, seperti judulnya, “Like Father Like Son”, hal lain yang telah dinyatakan di film ini selain pada kalimat awal tulisan ini yakni: fisik, bakat, perilaku, atau watak antara anak dan ayah tidaklah jauh berbeda. Tapi apakah iya dengan kesamaan fisik, bakat, perilaku, atau watak maka seorang anak harus kembali kepada ayahnya yang sesungguhnya? Mana yang lebih penting? Pertalian darah, kesamaan DNA, atau cinta, kasih dan kebiasaan yang sudah diterima, diberikan, dan dimiliki oleh hubungan anak-orangtua?

Continue reading

Standard