News

Toxic Relationship

2 taun lebih pacaran. Putus nyambung. Pernah dibilang juga kalau relationshipnya toxic. Aku ga percaya, aku bingung memang apa kriteria toxic relationship? Emang kayak gitu toxic relationship? Berkali-kali baca, tapi ga make sense buat aku. Akhirnya baru sekarang aku nemu penjelasan yang menurutku make sense. Aku terima penjelasannya karena ya, ternyata dari aku sendiri-lah yang membuat hubungan itu menjadi toxic atau racun.

Di atas dijabarkan ciri-ciri toxic relationship. Antara lain:

  1. Banyak kode-kode’an. Misalnya ngediemin pasangan, bersikap dingin, berharap nanti dengan sendirinya pasangan akan minta maaf. Ini toxic. Aku sering ngelakuin ini, dan emang pasanganku waktu itu ngga suka. Sudah berusaha untuk ngomong setelahnya, tapi entah kenapa, selalu setiap ada masalah yang kejadian, aku susah buat jelasin dan ga enakan, intinya, aku ga bisa gitu aja langsung negur dia. Mungkin dia juga capek kalo aku kayak gini. Penjelasan lebih detail silakan tonton video.
  2. Nyalahin pasangan atas emosi yang dirasakan. Sering juga aku begini, aku bete, trus aku minta tolong buat dibuat senang oleh pasangan karena menurutku pasangan adalah satu-satunya orang yang dapat menghibur. Setelah nonton video ini, ya, memang benar, bahwa ya emosi kita adalah tanggungjawab kita sendiri. Hubungan itu seharusnya dua-duanya sudah independen, bukan co-dependent atau terlalu bergantung dengan orang lain. Ga bisa serahkan tanggungjawab untuk mengatur emosi kita kepada orang lain. Tonton video untuk lebih jelas.
  3. Menutupi masalah dengan solusi sementara. Untuk yang ini, ga kejadian sama aku, karena pasanganku orangnya akan selalu membahas masalah sampai akar-akarnya dan ga akan kasih solusi sementara seperti ngajak jalan-jalan dulu sebagai solusi atas masalah yang dipunya. Tapi, untuk yang pernah begini, silakan tonton video karena ini juga toxic.
  4. Menunjukkan kecemburuan. Ini toxic dan berlaku di-aku dan membuat sampai kami sering berantem dan berujung putus. Ternyata aku ga percaya sama aku sendiri, ga percaya sama pasanganku sendiri juga. Tiap aku liat pasanganku ngelike cewe lain, aku dengan mudahnya cemburu, padahal dia udah bilang dia ga ada maksud apa-apa. Aku ga bisa percaya gitu aja. Lalu, misal dia pergi sama temen cewenya, padahal itu juga cuman temen, aku selalu ngerasa ga aman dan aku takut aku kalah dari temen cewe ini. Padahal dia bilang dia ga ada feel apa-apa dan dia sayang sama aku. Dari sini bisa diliat kalau aku benar-benar ada rasa tidak percaya diri dari aku sendiri dan aku juga jadi ga percaya sama pasanganku juga. Padahal udah diyakinkan, dan untuk temen-temen yang kenal mantanku, dia itu beneran ga aneh-aneh orangnya, dan setia. Kalaupun dia ngerasa dia melenceng, dia akan jujur dan bilang apa permasalahannya. Tpai biarpun begitu aku masih ga percaya aja. Ini toxic. Penjelasan lebih lanjut silakan tonton video.

Dari sini, mungkin aku pikir lebih baik aku benerin diriku dulu, menjadikan mental yang lebih siap dan dewasa, kenal lebih banyak orang dan belajar lebih banyak lagi, lebih bisa jadi orang yang independen dulu.

Standard
curhat

Mengulang Refleksi

Setelah sekian lama sedih dan nangis-nangis, aku masih belum sadar sepenuhnya kenapa semua ini harus kejadian. Masih suka ga terima, masih suka ngeyel dan keras kepala. Abis dipikir-pikir, mungkin aku udah terlalu lepas dengan apa yang harusnya aku perbaiki di hidupku. Aku pernah sampai di titik lelah dan ga kuat buat terus menjalani hidup yang harus ideal, harus penuh semangat, harus penuh kesabaran, penuh komitmen. Rasanya semua ingin lepas saja dengan semua tanggung jawab. Ingin rasanya hidup tidur-tiduran aja, enak-enak aja. Tapi emang mungkin ga boleh ya hidup seperti itu. Apalagi sudah menginjak usia yang dewasa. Tentu makin tinggi pohon makin terasa kencang anginnya. Semakin rindang pohon semakin banyak hal yang harus diurus, semakin besar tanggungjawabnya. Mungkin aku masih pengen main-main, jadi anak kecil, belajar (betul-betul belajar di kelas).

Semua ada masa-nya. Di masa yang sekarang, ga boleh terlalu terlena dengan hidup yang santai-santai amat. Harus kembali ke jalan yang seharusnya. Hidup penuh komitmen, hidup bertanggungjawab, tidak malas, disiplin, tidak muram dan suram, mementingkan kepentingan orang lain, penuh syukur atas hidup dan tidak egois.

Standard
curhat

Off

Hujan

Putus itu ngga enak, apalagi kalau pelaku/penyebab putusnya suatu hubungan adalah kita sendiri. Setiap ingat tentang masa pacaran, rasa yang tertinggal diakhir memori adalah rasa menyesal. Setiap ditanya sama orang, “kenapa putus?” bingung harus jawab seperti apa.

Entah ini hanya saya yang merasakan atau ternyata orang lain juga merasakan, saya tidak tahu. Kalau dibilang sudah move on, saya tidak bisa mendefinisikan secara tepat apa itu move on. Jika move on adalah kamu tidak pernah berharap lagi padanya, ya, saya sudah move on. Tetapi jika move on adalah benar-benar beranjak dari masa lalu dan mulai fokus ke masa depan, tidak, saya belum sepenuhnya move on.

Perasaan berdosa nan jijik itu tidak benar-benar tertinggal di masa lalu. Ia terbawa dan memberi dampak buat kehidupan sampai mungkin di masa depan. Pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di pikiran, “kenapa aku sehina itu ya?” “kenapa aku bego ya?” “kenapa aku berbuat itu ya?” terus muncul dan perlahan membekaskan goresan-goresan luka batin (?). Apalagi setiap saya membaca artikel, atau mendengar cerita tentang teman yang putus juga dengan masalah yang sama, namun dia berada di sisi yang terdampak/korban. Saya merasa, kamu dulu tega ya, Hilda. Dan begitu seterusnya.

Saya belum tahu caranya untuk memaafkan diri saya sendiri atas apa yang telah saya perbuat pada orang lain, yang sampai saat ini saya merasa perbuatan saya itu jahat.

Tapi teman-teman selalu bilang, yang intinya saya tangkap seperti ini:
“yang sudah terjadi ya sudah terjadi. Kita ngga tahu rencana Tuhan itu apa. Mungkin memang harus begini untuk bisa menjadi lebih dewasa, untuk bisa menjadi lebih baik dalam menjalani hidup selanjutnya. Diterima saja dengan lapang dada. Kamu bisa memaafkan dirimu sendiri dan melangkah ke depan.”

Mencamkan kata-kata itu, dan membawa-bawa Tuhan pula, saya semakin sedih dan merasa bahwa justru saya itu makin menyia-nyiakan apa yang sudah Tuhan kasih ke saya. Masa iya, saya berbuat dosa adalah salah satu “rencana-Nya” ? Saya masih tidak dapat berpikir jernih dan masih tidak masuk di akal saya. Oleh karena itu, saya masih belum bisa memaafkan diri saya sendiri hingga sampai hari ini.

 

Standard
News

Aku ga ngerti kenapa WA ku di-block lagi sama doi. Ga ngerti. Apa mau bikin aku menyingkir dari dia? Apa mau bikin aku jangan ganggu dia? Apa mau bikin aku kenapa sih? Dia sendiri marah pas tiba2 aku block. Tapi dia sendiri juga ngelakuin itu. Yaud ku tunggu aja sampe dia buka itu block nya dan dia bilang sendiri alasannya apa.

Standard