curhat

Yang Tidak Terkuak

Mempelajari psikologi manusia, komunikasi, sosiologi, musik, seni, masih lebih menarik dibanding mempelajari bisnis dan ekonomi. Maaf saja, saya belum bisa move on. Apalagi melihat banyak praktik bisnis yang membuat saya makin ilfeel dengannya. Baru OJT saja, udah banyak nemu yang aneh2 dan cuma bikin geleng-geleng kepala sendiri. Kalau itu bukan nasabah, mungkin udah saya kata-katain. Sama halnya dengan politik. Tapi dua dunia itu, katanya harus tetap dipelajari, dan justru harus masuk ke dalamnya, supaya kita tau cara untuk bisa mengubahnya jadi lebih baik. Tapi, apalah daya, siapa saya, tidak semua orang dapat diatur, tidak semua orang dapat dimengerti maksudnya dan diubah cara pandangnya. Bahkan saya dalam memandang bisnis sebagai hal yang memuakkan juga sulit diubah. Memandang bisnis yang sosialis, bah, mana mungkin, karena bisnis itu kapitalis! Hanya menunggu waktu hingga bisnisnya bangkrut maka orang itu akan tau, oh, tapi tidak semuanya tau dan sadar!

Saya di sini bukan berkata seperti orang sok suci. Saya pun pernah melakukan kesalahan fatal sama pacar saya dulu (sekarang sudah jadi mantan), saya ga punya komitmen, saya kecewa sama diri saya sendiri. Papa saya, yang saya anggap orang yang bisa saya contoh, melakukan perbuatan yang membuat saya kecewa habis-habisan sama dia. Kakak saya juga kadang manfaatin saya, saya kecewa sama dia tapi kadang saya juga manfaatin dia. Kacau? Berantakan? Ya. Sangat berantakan. Tapi mungkin ada keluarga yang masih lebih berantakan dari saya, karena masing-masing anggota keluarga pasti punya kesusahannya sendiri, punya trauma-traumanya sendiri.

Intinya, tulisan ini saya buat untuk pengingat bahwa jangan sampai realita mengubah prinsip, mengubah jati diri, mengubah ketulusan hati, mengubah hal-hal fundamental dalam diri dan semata-mata melakukannya demi ikut arus atau hal-hal materiil.
Semangat neng. Jangan bungkam, meskipun kamu lemah dan tiap mau ngomong yang dari hati kamu malah nangis. Kayak kemarin2 waktu ditanya apa yang sebenernya kamu ga suka, tapi malah nangis dan malah ngomongin hal-hal yang tidak terlalu esensial. Ada kegagalan komunikasi, ada kegagalan persepsi. Dan ya ini kesalahanku yang kurang bisa mengkomunikasikan diri, tidak bisa jujur sama diri sendiri. Mungkin masih ada perasaan inferior, perasaan ditekan, ada represi. Dan melalui tulisan inilah saya jujur sama diri saya sendiri, tentang perasaan, tentang pemikiran atau unek-unek.

Terimakasih untuk yang mau membaca. Mungkin ada setelah ini teman-teman memberi saya cap sebagai orang yang frontal dan seperti berbeda dengan diri yang teman-teman kenal. Ya, saya tidak pandai mengemas sebuah perasaan sebenarnya, semua ini hanya dipendam, saya represi, dan menjadi sampah batin.

Semoga mau mengerti.

Standard
News

Thankyou, 2019

Mengutip dari kutipan di blog kakak kelas semasa SMA,

Because pain is the universal constant of life, the opportunities to grow from that pain are constant in life. All that is required is that we don’t numb it, that we don’t look away. All that is required is that we engage it and find the value and meaning in it. – Mark Manson

Standard