curhat

Dilema Bersikap

Karakter itu dapat diubah, pun sikap dapat dibentuk. Akhir-akhir ini aku merasa aku sudah jadi orang yang tidak bertanggung jawab dan semena-mena. Aku tahu itu salah. Tapi tidak ada hal lain yang dapat aku lakukan. Rasanya ingin memberontak, ingin melemah, tidak semangat, ingin berkeluh kesah.

Kurang lebih 2 bulan lalu aku bilang dengan atasanku kalau aku “punya pilihan lain” dalam berkarir. Sebenarnya mereka support, tapi ada hal lain yang membuat aku terbentur dan tidak jadi berjalan menuju pilihan karir yang sudah ada di depan mata tersebut. Sedih? Sangat. Mungkin sekitar 1 minggu rasanya lelah dan merasa bahwa ternyata kerja kerasku untuk bisa tetap survive di sini demi mencapai cita-cita rasanya sia-sia.

Selama hampir 12 bulan menjajal pekerjaan yang jauh di luar bidangku, banyak hal yang terjadi. 4 bulan pertama, nilai ujian tulis tidak pernah lebih dari 70 (batas lulus), tapi lumayan bisa mengikuti ritme untuk OJT di cabang. Percobaan pertama yaitu DO. Terasa sekali kalau di bank itu harus bisa melayani. Nasabah itu  nomor satu, walaupun juga tidak boleh terlalu over untuk memberikan pelayanan. Dalam kurun waktu 3 hari, ketemu nasabah yang ada juga yang ngeyel-ngeyel. Pernah salah cetak mutasi juga, padahal maksudnya mau pakai mesin otomatis, biar besok2 nasabahnya bisa cetak sendiri, tidak perlu antri di CSO. Deg-deg’an banget, takut dimarahin. Tapi ya memang marah nasabahnya. Ga bentak-bentak, tapi raut mukanya berubah. Ya sudah. Mau gimana lagi? Tapi yang penting tidak mengulangi kesalahan yang sama di hari berikutnya. Harus lebih teliti, tidak perlu terburu-buru. Pekerjaan di bank memerlukan kejelian, atau bila tidak, selesai sudah. Saat itu sering lupa produk dan akhirnya sering bertanya ke teman untuk menjelaskan ke nasabah. Terlihat tidak profesional, terlihat tidak menguasai pekerjaan. Tapi entah kenapa, ujian DO ya terlewati begitu saja. Nilai bagus? Jauh dari bagus menurutku. Di luar ekspektasi, bisa dapat angka 8. Di situ pernah berpikir, ya sudah, coba jalani dulu, mungkin cocok, mungkin harus mengalami ini dulu. Tenang, yang penting kerja yang bener, supaya bisa pindah divisi, pikirku saat itu. Mungkin karena ketolong dengan pembawaan presentasinya, walaupun waktu ditanya, “di mobile banking bisa bayar listrik atau engga”, aku ragu-ragu. Sungguh bodoh, batin ku saat itu, tapi kenapa dapat nilai bagus? Tidak masuk akal. Kalau emang jelek, kenapa ga kasih aja nilai jelek?

OJT kedua masuk, mulai kenal dengan orang cabang. Berusaha untuk menjadi orang yang supel, menyenangkan, sopan, yang baik-baik pokoknya karena aku ga pengen punya reputasi jelek dan memberi kesan jelek. Gamau aneh-aneh pokoknya. Tapi di sisi lain, aku menjadi sangat penakut saat itu. Malu untuk bertanya karena takut di cap bodoh. Semua aku amati dahulu, tidak berani bertanya apapun. Mengamati, mengamati, dan mengamati. Sampai akhirnya pun aku hampir mau ujian selanjutnya, mempresentasikan nasabah. Tapi waktu itu, aku sama sekali tidak roleplay besar. Hanya dengan mentor. Sungguh ciut sekali sebetulnya nyaliku. Tapi di sini jadi belajar untuk bisa kenal orang dan tidak perlu malu bertanya. Kalau memang tidak bisa, ya akui saja. Tidak perlu terlalu bersikeras membantah. Memang tidak bisa ya sudah, tapi jangan terlalu banyak bertanya. Amati, catat, lakukan. Sebisa mungkin tidak menanyakan hal yang sama, meskipun kadang lupa mencatat dan menanyakan hal yang sama. 

Aneh, sungguh aneh. Saat itu masih berpikir untuk, yaudah kerja aja yang maksimal, tunjukkan kalau kamu bisa kerja, kalau kamu beda dari yang lain. Kamu punya integritas dan bisa professional, walaupun kenyaataannya itu sangat sangat menguras tenaga dan pikiran. Entah jadi lupa sarapan, jadi sangat mikirin duit, ga sayang sama diri sendiri kalo kata kakakku. Karena beberapa kali aku suka misuh-misuh sendiri di rumah. 

Singkat kata, walaupun memang belajar untuk jadi lebih berani, tapi banyak hal yang semakin hari-hari bertambah, semakin merasa bahwa ini bukan jalanku. Ada kekosongan, ada pergolakan, ada rasa ingin kembali ke “tabiat” untuk nulis, untuk main musik, seperti dulu. Ambisi itu ternyata masih ada dan masih menari-nari dipikiran, menyeruak, meminta-minta untuk diusahakan. Teringat dulu setelah kuliah pengen jadi musisi, punya rumah minat bakat, bikin les-les’an musik, pengen punya buku, pengen jadi peneliti, dosen, pengen jadi penulis yang punya banyak karya. Pengen kerja yang kerjanya itu di bidang ilmu budaya. 

Melihat banyak orang yang hidupnya kosong cuma buat duit, tapi di satu sisi juga melihat orang yang ga punya privilege untuk mendidik dan memenuhi dirinya sendiri dengan ilmu. Mulai mempertanyakan lagi, saya kerja untuk apa? Kenapa saya sekarang di sini. Pun dengan atasan yang berganti dan membawa dinamika pekerjaan yang berubah. Semakin mantap lah aku dengan pemikiran yang pernah dikatakan oleh Reza A.A. Wattimena tentang definisi bekerja dalam post nya berjudul kerja & kepenuhan hati, bahwa “kerja haruslah dipahami pertama-tama sebagai pembebasan diri. Dengan bekerja orang menjadi bebas. Ia tidak didikte oleh kemiskinan dan kebosanan.”

Apakah seluruh potential yang ada di diri ini benar-benar bisa berkembang? Kadang saya ga punya waktu untuk latian, untuk sekedar baca buku. Semua waktu sudah tersita untuk mengurus dokumen kerjaan yang tidak ada habis-habisnya. Kalau mau emang tercapai, sebenarnya menurut saya ya harus lembur. Ga bisa ga lembur. Kalau ga lembur, tidak tercapai targetnya. Itu yang saya pikirkan saat itu. Di waktu itu lah kemudian saya merasa saya perlu untuk mencoba lagi melamar pekerjaan yang memang sebetulnya saya inginkan tapi belum beruntung di saat-saat setelah wisuda dan mencari pekerjaan. Tak dinyana-nyana, pekerjaan yang diinginkan datang juga. Ada perasaan kaget dan, ah, yang bener. Gimana jenjang karirnya, gimana gajinya, benefitnya apa saja? Karena tidak mungkin aku bekerja tanpa memikirkan berapa upah yang aku dapat. Dan karena jika kita menelisik soal “Ikigai”, ada 4 aspek yang harus dipertimbangkan: what u love, what u’re good at, what u can get paid for, what the world needs. Ga cuma aspek seneng aja, tapi emang hrs mampu di situ, bisa dibayar, dan lingkungan emang butuh itu. Dan ternyata cocok semua. Walaupun secara kemampuan masih harus diasah lagi. Tapi kalau pekerjaan yang sekarang pun juga sama-sama perlu diasah, kenapa harus berusaha mengasah yang tidak diinginkan? Mungkin kadang emang perlu untuk terjun ke hal yang tidak diinginkan. Tapi kalau sebenarnya masih bisa meraih yang bisa diinginkan, kenapa tidak? Toh dengan hal yang disuka itu, seluruh potential lebih bisa terasah.

Kembali dalam dilema bersikap, ketika suntuk, merasa tidak ada jalan keluar. Teringat target yang tidak tercapai, rasanya mala situ muncul kembali. Teringat juga ternyata targetku sekarang sungguh berpengaruh pada penilaian tim. Bahwa walaupun aku bekerja secara individu, tapi pencapaianku bukan untuk individu semata. Aku yang tadinya sudah bertekad, yauda mau gimana lagi. Aku ga punya duit untuk bayar supaya keluar, mau gamau harus jalani 2 tahun. Tapi 2 tahun itu, yang tadinya aku mau bersikap cuek untuk target, menjadi tidak bisa dan selalu terpikirkan karena target itu berpengaruh terhadap tim. Aku sudah cerita ke senior dan senior bilang, ga bisa hil kamu bodo amat sama target kamu. Karena ya kamu sendiri nanti yang ngerasa kosong sama kerjaan. Tapi lalu aku bilang bahwa sekarang pun aku udah kosong rasanya. 

Aku pengen aku happy aja di kantor biar ga memberikan atmosphere yang buruk ke teman-teman satu ruangan, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa dipikiranku ada banyak hal yang ingin kulakukan seperti pengen nulis ini, pengen latian ini, pengen baca ini. Ketika weekend tiba rasanya senang sekali, bisa latian tapi kadang juga ga jadi latian karena pengen menghibur diri. Aneh, sungguh aneh. Dilema dalam bersikap, tapi aku tahu pasti bahwa jawabannya adalah, jangan sampai sisi burukmu yang keluar di orang luar. Tapi, kadang ya pengen bilang kalau ya aku punya sisi buruk yang mungkin orang rumah lebih tahu. Mulai dari males-malesnya, marah-marahnya, nyebelinnya, dll. Ya begitulah. Dilema dalam bersikap. Bahwa ternyata tempatku bekerja saat ini cukup punya andil untuk memanggil “monster”nya Hilda. Hingga waktu itu akan tiba. Tapi semoga ga kejadian, semoga tetep sabar.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s