curhat

Day 16: Menyambung Jiwa

Ini adalah kedua kalinya ikut serangkaian Meditation Challenge of Abundance by Deepak Chopra. Selama pertama kali ikut challenge, belum bisa adaptasi sama waktunya, karena aku masih ngerasa waktuku abis buat kerja. Aku ga punya cukup waktu untuk meditasi kira-kira 10 menit dan ngerjain “task” nya kira-kira bisa 20 menit – 1 jam. Tapi, setiap “task” yang diminta bener-bener bikin aku, “Anjay, ini apa sih maksudnya? Harus gini banget yak?” Harus nulisin aset-aset yang aku punya secara rinci b-a-n-g-e-t. Harus nulisin dan nginget-nginget orang-orang yang berpengaruh sama aku sampe ga berpengaruh. Harus mikirin tentang mama. Aaaaa meditasi macam apa ini hahahahaha. Tapi, setelah semuanya selesai, lega. Pengen lagi, walaupun masih lom disiplin sih.

Sampai lah aku di hari ke-16 untuk kedua kalinya. Mulai dari Jumat kemarin, sebelum long weekend (yah, kita bisa bilang long weekend lah ya, karena senin kan libur Hari Lahir Pancasila) aku marathon nonton Lost in Space di Netflix. Lost in Space ini TV series yang awalnya dirilis tahun 1965. Tapi yang aku tonton yang tahun 2018 untuk season 1 dan 2019 untuk sesason 2 nya. Selama aku nonton itu, aku cuma mikir, napa aku gitu amat ya sama kerjaan yang sekarang.

Kenapa aku sebegitu membatasi diri, menutup diri untuk pekerjaan yang sekarang?

Aku jadi mempertanyakan, kenapa aku se-gasuka itu sama kerjaanku. Sebelumnya aku juga berusaha curhat sama temen kuliah ku yang sebetulnya aku ga deket banget, tapi lagi deket sekarang karena project yang sempat digarap bersama. Aku tanya dan sedikit maksa mereka buat sharing kehidupan kerja mereka. Aku memang sekarang sedang mempertanyakan, sepenting apa mereka berdua mementingkan ego mereka berdua. Sepenting apa mereka bekerja di bidang yang mereka minat. Apa itu ego. Sayangnya, mereka berdua, yang aku tanyain itu, punya kesempatan untuk kerja di bidang yang emang mereka minat. Tapi si lainnya, secara lingkungan kerja kurang oke, kurang mendukung. Tapi mereka mau tetap kerja di situ. Berbalik dengan aku: lingkungan suportif, tapi aku ga minat.

Kembali ke topik, hari ini, aku memulai meditasi hari ke-16 dan topiknya adalah feeling gratitude. Tapi untuk ini, aku ngerasa caranya bereda dengan yang pernah aku denger tentang topik-topik bersyukur. Bahwa sebenernya rasa syukur tuh ya rasa terimakasih. Cara yang paling efektif untuk manusia yang penuh ego ini tersambung dengan jiwanya. Sebenernya feeling gratitude itu ga bergantung sama situasi atau keadaan kita sekarang. Tapi lebih masuk ke dalam perasaan “terberkati”. Bahwa, apapun yang dipunya sekarang adalah hal yang menguntungkan, hal yang seolah-olah adalah hadiah. Feeling gratitude adalah berusaha menghargai apa yang sudah dipunya dan menyingkirkan segala keterbatasan dan kekurangan dalam hidup.

Kadang kalau dipikir-pikir, apa ini toxic positivity? Entah kenapa aku ga merasa itu toxic positivity, karena dengan berusaha menghargai, ya ga perlu membandingkan dengan orang lain. Kadang justru kalau ada yang bilang, masih untung kamu kerja gajinya full and the bla bla bla, malah ngerasa, apaan dah. Mungkin mirip ya. Tapi untuk di meditasi itu aku lebih ngerasa ya berterimakasih, lebih menghargai. Ga ada menyinggung soal orang lain. Fokus sama diri sendiri.

Hmmm ya sekian ngelanturnya ya. Kok kayak agak ga nyambung yak ini dari meditasi trus ke curhat trus Lost in Space wkwkwk. Intinye: kalo ngikutin ego tuh ya ga abis-abis. Selesaiin apa yang sudah dimulai dari awal. Tapi tetep kejar yang dimau.

Ahahaha. Bye!

 

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s