curhat

Mengeliminasi Mimpi

Malam itu ada satu story yang bikin aku kagum tapi juga iri. Langusng ketika rasa iri itu muncul, aku langsung bilang sama diri sendiri, “Hilda… iri itu tanda tak mampu. Bukan perasaan yang baik juga. Mending dihilangkan.” maka seketika itu juga aku coba buat hilangkan perasaan itu. Emangnya apa yang bikin aku iri? Ada sosok perempuan yang masih muda tapi udah S2, dan kayaknya pinter banget. Lulus dari ITB di jurusan “luar angkasa”. Keren banget. Aku pengen sih dulu kayak gitu.

Akhir-akhir ini emang aku lagi sering noton film yang temanya tentang space dan tentang alam. Dari nonton Lost in Space, Semesta, Heal the World seriesnya Anatman Pictures, sampe Cosmos: A Spacetime Odyssey. Kalau melihat ilmuwan-ilmuwan gitu rasanya keren banget dan kayaknya ilmu sosialku ini ga berguna banyak wkwkwk.

Ilmu sosial ku bukannya membuat manusia makin paham satu sama lain, makin bisa toleransi, makin bisa lebih menghargai, tapi yang terjadi adalah sebaliknya: saling membenci, intoleransi, gap antara perbedaan makin besar.

Aku mulai iri dan minder karena keren banget si mbak satu itu, dia bisa berjuang dengan keilmuan dia dan fokus di situ. Sedangkan aku, aku berpindah-pindah, dari satu subjek ke subjek lain. Aku pernah baca dari post instagramnya @thewokesalaryman tentang “we should all be GENERALIST” yang intinya bilang kalau orang yang master di satu bidang aja juga tetap mempelajari yang lain karena mereka merasa kehilangan hal-hal yang lain, jadi gapapa kalo lebih banyak tau banyak subjek. Pun dengan kita menjadi generalist maka kita lebih bisa menghubungkan antara satu subjek dengan subjek lain. Koneksinya apa. Meskipun demikian, tetep aku ga puas coy. Wkwkwkw.

Aku ngerasa mempelajari yang berhubungan dengan alam semesta itu lebih luas dan lebih penting menurutku. Ya gatau juga yang lain gimana. Ini menurutku ya guys. Aku bukan berarti mengecilkan subjek lain, tapi ini berdasarkan perjalananku yang sering lintas jurusan. Mungkin aku juga bilang begini karena aku merasa aku kurang mampu dan kurang bisa terkoneksi dengan hal-hal berbau ekonomi dan kekuasaan wkwkwkw (padahal kerja di bank yak, tapi masih aja aku gagal paham kenapa orang tuh nyari keuntungan segede itu). Tapi juga kalau misal terjun kedunia yang lebih soal alam, aku gatau sih. IQ ku tuh ga tinggi-tinggi amat. Rata-rata lah. Anw, kenapa di Indonesia tuh subjek pelajaran dibagi IPA IPS Bahasa ya? Di luar negeri engga lho. Heran wkwkwkkw.

Back to topic, karena aku sering lintas jurusan, maksudnya dari fisika kimia biologi di pelajarin, trus komunikasi psikologi juga dipelajarin, sekarang soal ekonomi juga dipelajarin, aku jadi ngerasa bingung dan ga fokus dan aku juga jadi ga tau harus memutuskan untuk jadi apa.

Dulu, waktu kecil aku langsung cita-citanya adalah pengen jadi organis yang terkenal. Kenapa? Karena emang dari kecil itu seingetku aku mulai dari musik. Aku TK aku sering ngewakilin nari, trus aku juga oke kalo soal olahraga. Waktu SD pun juga gitu, aku ngerasa aku OK dibidang olahraga tapi aku juga ga kepilih ikut lomba senam. Haha sedih banget. Dari situ mulai tereliminasi lah mimpi jadi atlit. Yang masih bertahan adalah musik. Lalu aku mulai SD putus les musik, dan les lagi waktu SMP dan mulai ngiringin di Gereja. Jam terbangku ngiringin lumayang tinggi di gereja karena emang organis tuh dikit banget. Dikit yang mau pelayanan. Dan mungkin karena organ/electone bukan alat musik yang lazim ya. Lebih lazim piano atau keyboard atau gitar. Maka, karena musiiiiik terus, dan eyangku juga guru musik, aku pengennya jadi musikus dong. Tapi jadi pemusik profesional ga segampang itu. Akhirnya ga bisa aku ke musik. Llau ke komunikasi. Singkat cerita, semakin kita dewasa, semakin kita mengeliminasi mana mimpi-mimpi kita yang bisa tercapai.

Pernah terlintas aku pengen jadi dancer. Tapi tidak terwujud karena ternyata badanku ga cukup lentur dan menarik. Teman-teman bisa menemukan foto-fotoku nari dari jaman TK-SMP. Aku pengen jadi musisi, tapi aku ga cukup keren dan kreatif dan pintar untuk bisa terwujud, itu mati sejak aku SMA. Aku pengen jadi atlit, kayaknya itu hanya mimpi wkwkkww. Aku pengen jadi model, itu juga hanya mimpi. wkwkwkw aku pengen jadi guru yoga, ini ngasal banget sih hahahaha. Aku pengen jadi presenter, tapi ternyata aku ga ppunya cukup kepercayaan diri. Aku pengen jadi jurnalis, tapi ga dipanggil-panggil dan aku juga ga mau nyoba karena kayaknya gajinya kecil dan aku juga ga punya portofolio. Semua tidak terwujud akhirnya, dan berakhir saat ini kerja di bank. hahah Fail!

Semakin dewasa kita semakin realistis. Bahwa bermimpi itu tidak sekedar bermimpi seperti anak kecil. Namun bermiumpi yang benar-benar bisa terwujud dalam waktu dekat.

Mimpi sejatinya mungkin harusnya jauh dan dari waktu yang panjang. Sayangnya ga semua orang itu langsung bisa menemukan apa yang dimilikinya dari kecil dan langsung fokus ke sana. ga semua anak bisa seberuntung Isyana Sarasvati yang emang dari kecil tahu bahwa kemampuannya adalah di bidang musik dan ga semua orang itu seberuntung Isyana Sarasvati yang punya ortu bapaknya Grafolog dan ibunya juga guru musik dan menggembleng Isyana dari kecil sampe akhirnya bisa jadi ahli kayak sekarang. Semua ada hubungannya dengan takdir kalau aku bilang.

Umur 24, ada orang yang bilang, udah telat Hilda, tapi ada juga yang bilang belum telat. Terlambat atau tidak terlambat memang relatif. Kalau untuk menjadi saja sepertinya belum terlambat. Namun jika ingin menjadi ahli, sepertinya sudah terlambat.

Maka dari itu diperlukan kedewasaan bagi aku yang sudah beranjak tua ini. Untuk berani mengeliminasi mimpi, untuk bermimpi, namun juga sekaligus bertindak nyata. Untuk berguna bagi orang banyak, untuk memiliki tujuan hidup: sebenarnya untuk apa aku lahir di dunia ini?

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s