Review Film

Like Father Like Son: Kumpulan Kesalahan yang Diampuni

“Kamu adalah dengan siapa kamu dibesarkan, bukan dari rahim siapa.”

Apa Ayah pandai bermain layang-layang..PNG

Dengan menuliskan pernyataan di atas, saya siap dipukuli oleh ibu-ibu yang baru saja melahirkan anak setelah tulisan ini dipublikasikan (mbok pikir nglairke ki gampang po??? – kamu pikir melahirkan itu gampang apa?). Tapi dari film Jepang berjudul そして父になる, Soshite Chichi ni Naru, itulah salah satu hal yang saya tangkap setelah menonton film keluaran tahun 2013 ini. Hirokazu Koreeda sebagai sutradara dan penulis skenario, yang memang selalu mengangkat tema keluarga di film-filmnya, kali ini mengangkat isu tentang anak. Apakah itu tentang anak adopsi, anak tertukar, anak yang hilang baru bertemu kedua orangtuanya, Anda saya persilakan untuk menebak-nebak. Hehehe.

Yang jelas, seperti judulnya, “Like Father Like Son”, hal lain yang telah dinyatakan di film ini selain pada kalimat awal tulisan ini yakni: fisik, bakat, perilaku, atau watak antara anak dan ayah tidaklah jauh berbeda. Tapi apakah iya dengan kesamaan fisik, bakat, perilaku, atau watak maka seorang anak harus kembali kepada ayahnya yang sesungguhnya? Mana yang lebih penting? Pertalian darah, kesamaan DNA, atau cinta, kasih dan kebiasaan yang sudah diterima, diberikan, dan dimiliki oleh hubungan anak-orangtua?

Continue reading

Standard
Review Film

Kaseifu no Mita : Setiap Perilaku Memiliki Sebab

kaseifu no mita

Baru saja saya selesai menonton drama Jepang yang berjudul Kaseifu no Mita. Drama ini menceritakan tentang seorang pembantu rumah tangga yang misterius bernama Akari Mita yang ditugaskan disebuah keluarga. Keluarga ini merupakan keluarga yang memiliki masalah yang kompleks.

Mita-san adalah pembantu rumah tangga yang patuh pada majikannya. Ia selalu melakukan apapun yang diperintahkan majikannya termasuk membunuh orang. Aneh? Ya! Mita-san benar-benar seperti robot. Ia tidak pernah tersenyum, tidak pernah tertawa, menangis ataupun marah. Ia juga memiliki apapun. Tetapi bagaimana bisa seorang manusia berperilaku demikian?

Ternyata Mita-san memiliki masa lalu yang kelam yang membuat Ia menjadi demikian. Ia tak pernah tersenyum sekalipun, itu karena masa lalunya.

Pernahkah kalian merasa bahwa apa yang kalian lakukan selalu salah? Continue reading

Standard
Review Film

Rise of The Guardians dan Kepercayaan

Kepercayaan? Untuk bisa mempercayai seseorang itu susah-susah gampang. Demikian pula dengan cara membangun kepercayaan.

Hari ini saya menonton film Rise of The Guardians yang diproduseri oleh DreamWorks Animation. Film tersebut dirilis pada tanggal 21 November 2012. Baru tadi siang saya bisa menontonnya secara utuh. Hahahaha. Biasanya saya selalu ketinggalan beberapa segmen. 😛

Dalam film ini saya mendapatkan suatu nilai yang juga umum di masyarakat, yakni kepercayaan. Jack Frost adalah salah satu legenda di Eropa yang sebenarnya sejajar dengan Santa Claus, Sandyman, Tooth Fairy ataupun Easter Bunny. Namun Jack Frost ini kurang dikenal oleh masyarakat Eropa saat itu.

Lalu nilai apa yang saya dapatkan dari tokoh Jack Frost? Kepercayaan.

Ya. Kepercayaan. Awal mula, Jack Frost tidak bisa dilihat oleh anak-anak. Mengapa demikian? Continue reading

Standard